Ibu berjilbab itu keluar dari mobilnya, tanpa mengenakan alas kaki. Sejurus kemudian, dia melampiaskan amarahnya kepada seorang polisi. Dia tampak mendamprat, memukul, mencakar, menarik baju, bahkan berusaha memiting sasarannya.
Aparat yang kena serang memilih tak membalas, sekaligus terlihat kesulitan mengelak. Boleh jadi, dirinya tak menyangka akan mendapat serangan mendadak.
Peristiwa di muka terekam dalam video berdurasi 52 detik, yang menyebar dan jadi perbincangan di media sosial.
Di akun Instagram, @Korlantas, video itu telah disimak lebih dari 400 ribu kali. Jumlah komentarnya sudah menyentuh angka belasan ribu, Rabu (14/12)
Belakangan, diketahui bahwa ibu yang marah-marah itu adalah Dora Natalia, pegawai di Biro Perencanaan Mahkamah Agung (MA). Adapun polisi yang jadi sasarannya adalah Aiptu Sutisna, petugas BKO (Bawah Kendali Operasi) Satgas TransJakarta dari Polda Metro Jaya.
Atas perbuatan Dora, Sutisna melaporkan kasus ini ke Kepolisian Resor Jakarta Timur. Dalam laporannya, Sutisna menyertakan bukti visum, baju yang robek, dan lencana pangkat yang sempat copot.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur, AKBP Sapta Maulana, memastikan kepolisian akan memanggil Dora guna mengusut kasus ini. "Iya nanti kita panggil," kata Sapta.
Sedangkan Juru Bicara MA, Suhadi, menjelaskan bahwa pihaknya juga akan memproses kasus ini secara internal.
"(Kasus Dora) sudah diserahkan kepada Badan Pengawas untuk melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan. Bawas akan meneliti dan mengambil tindakan," kata Suhadi, dilansir CNN Indonesia.
Di sisi lain, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Irawan, memberikan penghargaan kepada Sutisna, yang dinilai telah bersikap profesional menyikapi serangan Dora.
Penghargaan diberikan saat apel pasukan di Markas Polda Metro Jaya, Rabu (14/12). "Saya sampaikan apresiasi kepada yang bersangkutan atas keprofesionalannya dalam bertugas," kata Irawan.
Pemicu insiden
Sejauh ini, ada dua versi cerita yang beredar ihwal pemicu serangan Dora. Versi pertama, seperti dilansir CNN Indonesia, termaktub dalam keterangan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Argo.Kata Raden Argo, Dora marah karena polisi memberhentikan mobil berpelat nomor B 1257 PRY, yang dikemudikannya.
Saat itu, kondisi lalu lintas di depan Santa Maria, Jalan Jatinegara Barat, memang sedang padat. Sutisna --yang tengah berjaga-- memberhentikan mobil Dora, karena yang bersangkutan hendak melintas di jalur bus TransJakarta.
Ketika itulah Dora keluar dari mobil, marah, dan melakukan penyerangan. Adapun video rekaman nan viral di internet direkam oleh petugas polisi lain, yang sedang berjaga bersama Sutisna.
Cerita berbeda datang dari seorang perwira di lingkungan Polres Jakarta Timur, yang menjadi sumber Merdeka.com. Kata dia, kemarahan Dora justru disebabkan oleh Sutisna yang dianggap menyebabkan kemacetan --karena berjaga di jalur yang mestinya bisa lancar.
"Dia (Dora) marah terhadap posisi. Bapak jangan di situ. Di sana macet," kata sumber itu, menirukan protes Dora.
Namun protes itu disampaikan dalam nada tinggi. Sutisna pun mendatangi Dora dan berusaha mengambil foto pelat nomor mobilnya. Saat itulah Dora marah-marah, dan aksi penyerangan terjadi.
Akun Instagram @desisingarimbun --mengaku sebagai adik Dora-- juga memberikan keterangan serupa.
Menurut @desisingarimbun, Dora kala itu menegur polisi karena menyebabkan kemacetan. Alih-alih merespons baik, petugas malah mengambil kunci mobil Dora, tanpa membuat surat tilang.
Dora pun turun ke jalan, dan meminta kunci mobil serta surat tilang. Polisi enggan memenuhi permintaan itu. Maka terjadilah insiden yang bikin heboh jagat media sosial ini.
@desisingarimbun juga menyebut rekaman video yang menyebar tidak utuh. Sebab ada peristiwa polisi bersepatu lars menginjak kaki Dora yang tanpa alas, tetapi justru tak terekam.
@desisingarimbun mengakui, "Kakak saya orangnya tempramen". Namun, dia juga mengingatkan khalayak bahwa kakaknya "tidak untuk dihakimi".







0 comments:
Post a Comment